Jumat, 26 Juni 2015

Tak Lagi Kosong (Juara I YOVC 2014)

Tak Lagi Kosong (Juara I YOVC 2014): Banyak orang mengalami kekosongan dalam hidupnya. Mereka berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai cara yang bisa mereka lakukan. Namun, setiap usaha yang berasal dari kekuatan sendiri pastinya

Selasa, 24 Maret 2015

Alexa dan Bintang (Hidup Itu Ajaib)

"Semakin gelap, semakin bersinar terang bintang itu..."
Lampu kamar sudah padam, tak ada suara apapun lagi selain bunyi suara keyboard laptopnya dan juga suara menderu dari benda petak berwarna putih yang kini ada di hadapanya.. Angin semilir masuk melalui jendela ruang kecil di rumah itu. Alexa duduk memeluk kedua tungkai kakinya.. Di sebelah laptopnya tampak secangkir teh yang asapnya masih mengepul..

Raut wajahnya tenang namun sepertinya menyembunyikan banyak hal. Ya, banyak hal yang tidak dimengertinya, banyak hal yang tidak ingin dipikirkannya malah lengket dan enggan meninggalkannya.. Kadang kala ada sesuatu hal yang semakin ingin kau menginginkannya untuk pergi, semakin kuat kau menolaknya pergi, semakin enggan ia meninggalkanmu... Jangan tanyakan kenapa bisa begitu, karena dia sendiripun tidak mengerti..

Tentang pertemuan yang tak pernah terduga dan tak pernah direncanakan.. Tentang dua orang yang bertemu kemudian terpisah dan akhirnya kembali diantar ketempat yang sama untuk dipertemukan kembali.. Hidup memang terlalu ajaib untuk kau terjemahkan, Alexa.., bisik batinnya..

Alexa meraih teh itu dan menyeruputnya.. Kafein teh memang tak sebanyak kopi, aroma dan rasanya juga tidak sepekat kopi.. Malam ini perempuan dalam balutan piamanya itu inginkan ketenangan dan kehangatan dari secangkir teh..

Bintang, dulu aku sering menulis kisah peri hujan denga rembulan.. Dan kisah itu ingin ku akhiri dengan kata melepaskan.. Tapi bintang, kenapa disaat aku bertekad ingin melepaskanmu dan mencari tempat baru memulai semuanya tanpa kenangan tentang kamu, kamu malah hadir.. Aku tak tau harus berkata apa.. Aku tak tau harus merasa apa.. Antara senang dan sedih, bahagia ingin memelukmu dengan derita karena menahan diri... Aku tidak suka itu.. Bantu aku untuk membencimu bintang... Setidaknya, berikan aku solusi untuk melupakanmu.., Alexa menghelakan nafas panjang.. Kedua telapak tangannya kini membungkuk mendekap dinding cangkir itu.. Hangattt..., senyumnya..

Ia tidak pernah tau bagaimana ia harus mengakhiri perasaan itu dan bagaimana ia harus melangkah maju sementara kakinya masih ada di masa lampau sebelah!

Kau tau, hal yang paling menyebalkan adalah hal dimana kau tidak mengerti dan tidak tau apakah kau harus memutuskan untuk melangkah (dare to move) atau kau akan bertahan untuk melanjutkannya...

Tau konsekuensinya seperti apa dan kau tak siap untuk dipermalukan oleh resiko exteren..  Itu sungguh luar biasa mematikan! Alexa menghempaskan tubuhnya keras ke atas kasurnya. Ia mengusap mukanya berulang kali seolah berharap kefatamorganaan yang ia alami segera enyah.. Ia lelah, ia ingin tidur, dan ia benar-benar ingin hilang ingatan, mengganti memori otaknya dengan memori baru seperti yang ia lakukan ketika memori gadgetnya penuh.. Andai saja itu bisa dilakukannya....

Senin, 08 Desember 2014

CERPEN; Tentang Sebuah Jawaban

Baik karena ada apa-apanya? Memberi lalu mengikatmu? Tidak. Ketulusan tidak setega itu, pujangga.. Kau perlu belajar pada dedaunan yang jatuh terenggut oleh angin agar kau tau bagaimana aku tulus menyanyangimu, angin...

Ya, aku memang menyanyagimu.. Bohong jika aku tak mengharapkan kamu untuk merasakan yang sama. Tapi bukan seperti itu yang ku maksud. Bukan karena aku memberimu lalu kamu harus membalasku.. Tidak.. Aku hanya inginkan kejujuran hatimu. 

Hati kecil tidak pernah bisa bohong, berikut dengan mata.. Berbeda dengan bibir. Kenapa tidak kamu pertanyakan kembali pada hati kecilmu dan kemudian menjawabku dalam dekapan? Membiarkan semuanya berjatuhan sendiri secara alami pada tempatnya masing-masing..? Bukankah sejauh ini kita ibarat cermin dan refleksinya? Yang meskipun pecah cermin terbelah, namun kamu tetap bisa melihat refleksimu di sana? Mengapa kau meragu? Aku tau kau hanya berusaha menyangkali semuanya..

Kita tak punya waktu lama untuk segala keraguanmu itu, Ksatria.. Pilihan kita cuma dua.. Membiarkan semuanya berlalu dengan hanya mengecapi getirnya saja lalu kembali menjadi biasa saja, atau mencoba mengambil kesempatan untuk kita menuliskan cerita indah kita sendiri sebelum kita saling melepaskan dan menjadi biasa saja.. Kamu terlalu takut untuk merasakan apa itu cinta.. Ya, kamu takut sakit tanpa kamu sadari kamu sedang menyakiti dirimu sendiri..

Aku, wanita yang kembali melangkah dalam gamang, menanti tuntunan yang tak kunjung datang darimu.. Jangan sampai aku terbiasa dilatih gamang kemudian kau datang menawarkan keperihan untuk aku (dan mungkin juga kamu).. Karena wanita tidak memulai.. Dan karena dalam beberapa hal, aku suka dikuasai olehmu.. Tapi bukan berarti aku senang kamu torehkan luka karena hal yang sama terus menerus.. Yang perlu kita lakukan hanya jatuh bersama untuk terbang bersama.. Tapi itupun susah ku lakukan..

Semoga angin, udara, rembulan, hujan, awan, mentari, semesta, atau apapunlah itu menyampaikan pesanku untukmu meski tanpa perahu.. Perasaan ini adalah perasaan yang tulus dan sejernih air mengalir.. Ia tidak akan memaksa jika kau tak merasakan yang sama.. Semoga masih ada waktu untuk sekedar bercengkrama membiarkan bunga-bunga bermekaran beriringan dengan detak jantungmu yang akan menjadi lullaby -ku..

Rabu, 03 Desember 2014

CERPEN; Kopi Hitam Untuk Peri Hujan

Hidup itu seperti selalu penuh kejutan jika kita berhenti mengharapkan sesuatu. Aku percaya sesuatu terjadi pasti karena ada alasan dibaliknya.. Meskipun yang tau itu hanya yang di atas..
"Hallo", aku diam terbata saat mendengar suara yang sudah lama tak ku dengar.. Aneh memang, aku tak tau kenapa tiba-tiba nomornya tertekan. Dari sekian banyak nomor yang ada di handphone ku KENAPA dia? Could you tell me why? Sekian detik, setelahnya mati dan sebuah pesan teks masuk.. Hmmm... Berawal dari telepon itu akhirnya sebuah perbincangan dimulai.. Aneh memang setelah sekian lama tidak bersua.. Setelah sekian lama tidak memperbincangkannya.. Setelah sekian lama ku endapkan dan terendap, kini malah dipertanyakan.. Rasa itu ada, hanya harapannya yang ku redupkan.. Buat apa berharap banyak jika kita masing-masing tau kalau itu berujung tak baik..?

Mungkin dia enggan utarakan rasa, sementara wanitanya juga mengharapkan prianya yang mengambil alih untuk mengutarakan.. Mereka terdampar ditengah-tengah realita saling terlalu tinggi untuk "jatuh" bersama.. Tidak seharusnya, tidak juga layak, tapi tidak bisa ku pungkiri.., begitu gurutu batin masing-masing..

Hujan mengguyur membuatnya semakin larut.. Bimbang tak tau harus bahagia atau malah bersedih..

3Des, wanita itu akan mencatatnya kembali dalam sejarah hidupnya.. Mereka kembali akrab dan memperbincangkan apa saja.. Dunia boleh berkata apa saja tapi di planet mereka, yang tau masing-masing pribadi adalah merek masing-masing..

Dalam hati berkata, untuk saat ini biarlah begini.. Tapi dalam batin juga terlintas rasa emosi karena endapan kopi itu harus terkacau lagi.. Gunung berapi seolah terbatuk..

Hidup ini misteri.. Mari biarkan ia menjadi kejutan di setiap esok hari.. Dan untuk dini hari ini, biarlah ku menikmati suguhan secangikr kopi hitam darimu ditengah dinginnya hujan.. Asapnya tidak terlalu menggepul tetapi cukup membuat jiwa terhenyak dengan aromanya.. Ada hangat diantara rintikan hujan.. Ada manis diantara pahitnya kopi..Ada kejernihan diantara hitamnya.. Ada yang bisa diseruput meski ampasnya kini sedang mengapung bertebaran diseluruh permukaan, tapi disanalah seninya.. Semoga kamu tertidur dengan aroma kopi yang sama seperti yang ku rasakan dini ini... Hangat diantara sejuk...


By : Peri Hujan

Kamis, 13 November 2014

CERPEN; Ngilu

Bolehkah aku bercerita? Atau mungkin sekedar terkenang? Ada bahasa yang tersirat di udara malam ini.. Bahasa yang hanya dimengerti oleh kita dan mungkin juga mereka yang sedang merindu.. Dia adalah ngilu.. Ngilu yang hadir karena merindu.. Hatiku ngilu ketika aku mencoba untuk tidak mengingatmu, tetapi bahagia jika ku menyorakan namamu dalam hati.. Hatiku ngilu ketika aku mencoba mencungkil kamu keluar dari sana, tetapi tenang tak berdenyut ketika kamu ku biarkan di dalam sana.. Maka aku tak ingin memaksamu untuk keluar dari sana.. Kamu masih di dalam hatiku (entah sampai kapan)..

Bukan kegalauan yang ku rasa karena kegalauan hanya untuk mereka yang tidak mengerti apa yang dirasakannya. Sementara aku, aku tau persis perasaan apa ini.. Dia adalah rindu yang kemudian menjelma menjadi ngilu diantara bulir hujan malam ini.. Dia adalah angin yang kemudian menjadi penyebab dawaiku berdenting.. Dia adalah cinta yang letaknya sedekat denyut nadiku namun begitu rapuh ketika ku sentuh.. Seperti kabut.. Seperti embun.. Seperti awan.. Yang tampak nyata namun buyar ketika digapai..

Entah sejak kapan rasa cinta itu berubah menjadi racun yang perlahan membunuhku.. Dan entah sejak kapan pula aku rela membiarkan semua rasa itu bersemanyan dalam kenangan yang selalu ada di dalam sini..

Sahabatku menepuk punggung tanganku.. "Sudahlah.. Sudah terlalu lama kamu seperti itu.. Sudah terlalu lama kamu membiarkan dia merajai istana hatimu, sobat.." Aku tak mampu berkata-kata.. Yang dibilangnya memang ada benarnya.. Aku mungkin menangis untuk seseorang yang tidak menangisi ku.. Aku bertahan pada seseorang yang terus mengikisku secara perlahan.. Aku menyimpan rasa pada seseorang yang mungkin tidak pernah benar-benar menginginkan aku.. Hmmm.. Entahlah..

Apa kabarmu angin..? Aku merindukan ceritamu.. Candamu.. Nyanyianmu.. Suaramu.. Dan mungkin hadirmu yang membawa ketentraman.. Maka 'kan ku pejamkan mata ini dan menyematkan namamu diantara kedua bibirku yang ku katup. Membiarkan hujan bercerita tentang kita, dan angin membunyikan dawaiku.. Aku bersenandung bersama alam.. Atau mungkin alam selalu tau bagaimana cara mempersembahkan ceritaku padamu, jika kamu cermati..

Bersama hujan malam ini, dawaiku kembali berdenting karena angin..

Sabtu, 08 November 2014

Yang Terlintas; Nyerah?

The hardest thing to do is Letting go. Not because you want to BUT you have to..

Pernahkah kalian merasa lelah memperjuangkan 5cm yang bergelantungan di depan kening kalian? Pernahkah kalian merasa seolah tak tau jalan, tersesat dan tak punya siapapun yang bisa kalian andalkan? Ada kalanya aku merasa lelah.. Andai saja aku tidak pernah mengenal apa itu arti kata "impian", apakah hidup akan lebih enteng seperti bocah umur lima tahun yang bisa tertawa, menangis seadanya? Atau mungkin hidup ini jalan ceritanya akan lain lagi..? Setiap orang pasti punya atau setidaknya pasti pernah merasa punya sesuatu yang ingin dia perjuangkan...

Masa depan.., sesuatu yang pasti datang tapi tidak pasti juga bagaimananya.. Berat rasanya melepaskan yang pernah kita miliki, tapi juga terlalu tak berdaya untuk melawan kenyataan yang begitu mengekang. Kadang aku hanya ingin melarikan diri, meninggalkan semua yang ku punya di belakang sana. Tapi aku tau aku tidak akan bisa beraembunyi dari takdirku. Kata-kata bijak saja kadang tidak cukup untung menghibur atau menyemangati diri ini..

Aku bercermin kepada bayang-bayang masa lalu.. Tak banyak yang tau tapi tak sedikit pula yang pahami.. Kenapa? Jangan tanyakan padaku karena aku juga tak tentu jawab.. Saat kelopak bunga mawar satu persatu gontai oleh badai, kau kira apa yang akan terjadi? Seperti itulah.. Ibarat berjalan di pasir pantai, langkah kaki yang satu dengan yang lainnya tidak saling berhubungan, tidak ada saling membanggakan.. Apa yang kamu kerjakan hari ini, belum tentu itu adalah untuk esok.. Karena hari ini dan esok, adalah keadaan yang berbeda..

Aku yang sekian tahun yang lalu sungguhlah berbeda dengan aku yang sekarang.. Aku yang dulu hanya tau bagaimana cara menari, bernyanyi kini ibarat pembalet yang cedera kakinya.. Ibarat biola yang tak berdawai ketika aku menyadari waktu ku untuk itu mungkin sudah selesai porsinya.. Aneh bukan? Disaat kamu merasa yakin, merasa inilah jalannya, tiba-tiba pagi membawamu kepada cerita lain.. Ombak menyapu habis jejakmu dan hanya meninggalkan kenangan, tak lebih.. Dan kenangan itu rapuh adanya..

Aku tiba-tiba merasa gamang untuk melangkah.. Aku merasa tersesat, terdampar oleh badai hidup.. Sayap-sayapku patah! Aku tak bisa terbang dan hanya bisa tertatih letih.. Sebagaimana burung kecil menderita hidup di daratan karena bukan disana tempatnya, seperti itulah aku menderita.. Mencoba meraba mencari jawaban tentang semua ini namun tak jua ku temukan.. Mungkin ini adalah cara-Nya mengingatkanku bahwa "Di sini, masih ada daratan tempat mu berpijak dan kamu masih punya kaki yang harus kau tancapkan." Apa makna dibalik semua ini, aku tak pernah tau.. Hidup selalu misterius.. Hadir penuh dengan rahasia dan membiarkan sang waktu nan angkuh menguaknya satu per satu..

Andai hari ini aku harus kehilangan harapanku, ingatkan aku bahwa rencana-Mu itu lebih baik dari impianku dan lebih indah.. Kemudian ajarkan aku untuk menerimanya dengan lapang dada... Itu adalah hal yang ku perlukan, TUHAN ketika dunia ku seolah mau runtuh.. Amim..

Kamis, 06 November 2014

CERPEN; Dia

Tentang seseorang...

Dia yang sempat datang, memberi indah, namun meragu.. Dia sempat memberi rasa namun setelahnya, meragu.. Dia yang tidak pergi namun juga tidak ingin tinggal.. Wanita itu tidak mengerti apa maksud dan mau lelaki itu..

Masih tentang seseorang itu, masih tentang orang yang sama, masih tentang dia yang namanya selalu hadir dikala hujan pertama datang dan hujan terakhir berlalu.. Masih tentang dia yang namanya menjadi rahasia bersama bulan.. Masih tentang dia yang bayangnya selalu menghantui dikala sepi meraja. Masih tentang lelaki abu-abu itu.. "Kamu adalah apa yang ku tulis, tapi aku adalah tulisan yang mungkin tak pernah kamu baca..", bisik wanita itu..

Dia ibarat awan yang bisa terlihat namun begitu tak menentu.. Dia rapuh seperti kabut ketika disentuh.. Wanita itu tidak tau apakah dia ada di hati dan pikiran lelaki itu.. Ia tidak ingin bertanya kemana lelaki kabut itu pergi dan kapan kembali, meski itu bukan hal yang mudah bagi wanita itu.. Ia hanya tidak ingin merasa dibohongi atau tepatnya tidak ingin lelaki itu berbohong.. Jadi dia bertanya dalam diam..

"Aku tidak ingin kita semakin dalam..", cuma itu kalimat terakhir yang direkam olehnya.. Entahlah.. Tidak ada yang mengerti mereka, mungkin tidak juga diri mereka sendiri..
Pertemuan dan perpisahan itu datangnya satu paket. Seperti layaknya kedua sisi mata uang.. Begitu juga dengan cinta, airmata, dan senyuman datangnya sepaket! Ibarat bunga mawar nan cantik, harum, namun juga berduri.. Dia cantik, terlihat tegar, namun tak terpungkiri juga mudah gontai..

Sekali lagi ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa cinta itu tidak selamanya berujung dengan saling memiliki, walau kini batin mereka, hati mereka saling memiki.. Sekali lagi ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa menyayangi dia itu tidak nembutuhkan alasan.. "Kau boleh meminjam bahu ku ketika kau ingin menyandarkan diri.. Kau boleh meminjam genggaman ku jika kau gemetar menghadapi getirnya hidup.. Akulah pantai tempatmu berpijak ketika daratan sekelilingmu mulai terkikis dan tenggelam..", seperti inilah wanita itu ingin berucap kepada lelaki itu namun tiada berkesempatan..

"Sebelum kamu berlalu dan mungkin tak kembali, aku ingin kamu tau bahwa kamu pernah berlayar di imajiku walau hanya dengan perahu kertas.. Jika rasa itu sudah terkikis atau kamu tinggal mati, aku ingin kamu tau bahwa aku akan selalu ada di sini bersama bayangmu.. Kalau saja kamu terpuruk di depan sana kelak, ingat ada aku di sini yang tidak akan bersembunyi dan tidak akan lari.. Kamu boleh lupakan perasaanmu tapi jangan lupakan aku.. Kamu mungkin saja lupa, tapi aku tidak.. Kamu mungkin saja pergi, tapi aku tidak.. Karena aku akan menjadi sahabatmu.. Sahabat yang membuatmu mencintai dirimu sendiri ketika kamu lupa.. Sahabat yang akan menjadi sayapmu ketika kamu terhantam tanah.. Aku akan menjadi kakimu ketika kamu tertatih.. Maka usah kamu risau.. Kita akan baik-baik saja.. Seperti katamu waktu itu... Terimakasih, kamu telah menghadirkan cinta untuk ku meski kini cinta yang ku lepas itu mungkin saja tidak melepaskan aku.. Tapi aku tetap bahagia dengan itu.."